Pengikut

Selasa, 26 Juni 2012

DAYA SAING PRODUK DALAM NEGERI DITENGAH PERDAGANGAN BEBAS GLOBAL


MAKALAH PEREKONOMIAN INDONESIA
DAYA SAING PRODUK DALAM NEGERI DITENGAH
PERDAGANGAN BEBAS GLOBAL




DISUSUN OLEH         :
DYAH RETNOWATI           11417141035

ILMU ADMINISTRASI NEGARA REGULER
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
Pada era pasar global ini, banyak negara yang berlomba-lomba untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Sebagai Negara berkembang, Indonesia pun turut serta dalam upaya meningkatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi ini diwarnai dengan perubahan lingkungan yang cepat dan perkembangan tekonologi informasi yang pesat.
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997-1998 telah membuka kesadaran akan pentingnya makna ketergantungan antara suatu Negara terhadap Negara lain yang membentuk suatu liberalisasi perdagangan dengan wujud perdagangan bebas, perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda. Hal ini, liberalisasi perdagangan mempunyai pengaruh langsung terhadap kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Liberalisasi perdagangan bertujuan meningkatkan perdagangan antar Negara anggota ASEAN (intra-ASEAN trade), dan menarik lebih banyak penanaman modal asing (PMA).
Perkembangan ekonomi Indonesia dewasa ini menunjukkan semakin terintegrasi dengan perekonomian dunia. Hal ini merupakan konsekuensi dari dianutnya sistem perekonomian terbuka yang dalam aktivitasnya selalu berhubungan dan tidak lepas dari fenomena hubungan internasional. Adanya keterbukaan perekonomian ini memiliki dampak pada perkembangan neraca pembayaran suatu negara yang meliputi arus perdagangan dan lalu lintas modal terhadap luar negeri suatu negara. Saat perdagangan bebas diberlakukan, perdagangan luar negeri Indonesia justru memperlihatkan data yang mengkhawatirkan. Nilai ekspor Indonesia sepanjang 2009 merosot cukup tajam, yakni sampai 14,98 persen dibanding 2008 (BPS/Data Republika, 2010).
Perdagangan internasional yang sering dibatasi oleh berbagai pajak negara, biaya tambahan yang diterapkan pada barang ekspor impor, dan juga regulasi non tarif pada barang impor. Secara teori, semua hambatan-hambatan inilah yang ditolak oleh perdagangan bebas. Namun dalam kenyataannya, perjanjian-perjanjian perdagangan yang didukung oleh penganut perdagangan bebas ini justru sebenarnya menciptakan hambatan baru kepada terciptanya pasar bebas. Perjanjian-perjanjian tersebut sering dikritik karena melindungi kepentingan perusahaan-perusahaan besar. Dalam makalah ini akan dibahas tentang seberapa kuatnya daya saing produk dalam negeri Indonesia didalam perdagangan bebas itu sendiri.
BAB II
PEMBAHASAN

DAYA SAING PRODUK DALAM NEGERI DITENGAH PERDAGANGAN BEBAS GLOBAL
Perdagangan bebas adalah sebuah konsep ekonomi yang mengacu kepada Harmonized Commodity Description and Coding System (HS) dengan ketentuan dari World Customs Organization yang berpusat di Brussels, Belgium. penjualan produk antar negara tanpa pajak ekspor-impor atau hambatan perdagangan lainnya. Perdagangan bebas dapat juga didefinisikan sebagai tidak adanya hambatan buatan (hambatan yang diterapkan pemerintah) dalam perdagangan antar individual-individual dan perusahaan-perusahaan yang berada di negara yang berbeda (Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas). Perdagangan bebas merupakan suatu kegiatan jual beli produk antar negara tanpa adanya kerumitan  aturan atau birokrasi yang mengatur perdagangan bebas itu didalam suatu Negara. Sehingga, suatu Negara, perusahaan, atau perorangan sekalipun dapat menjual produk yang diciptakannya di luar negeri. Begitu pula sebaliknya, Negara lainpun dapat menjual produknya didalam negeri sehingga komsumen dapat mendapatkan barang – barang kualitas internasional dengan mudah dan dengan harga yang relatif terjangkau. Hal ini termasuk salah satu dampak dari globalisasi yang semakin marak saat ini.
Globalisasi adalah keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit. Globalisasi perekonomian merupakan suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Seperti itulah gambaran tentang perdagangan bebas yang saat ini dianut oleh Indonesia dan negara-negara lainnya.
Nyatanya adanya perdagangan bebas dapat memberikan keuntungan ataupun kerugian bagi negara yang menjalankannya. Keuntungan bagi negara dan para pelaku perdagangan bebas pada umumnya didapat karena produk yang dihasilkan mampu menembus pasaran global, sebagian adalah produk-produk yang dapat merajai pasar global. Keuntungan yang dicapai tersebut tidak lain karena kuatnya daya saing produk-produk yang diciptakan sehingga dapat menembus pasar global. Sebaliknya, dalam perdagangan bebas kerugian akan dialami oleh suatu negara yang masuk dalam perdagangan bebas apabila produk dalam negara tersebut tidak mampu bersaing didalam pasar global, dengan kata lain produk dalam negeri kalah dengan produk impor yang memiliki nama besar atau yang lebih terkenal. Seperti yang dijelaskan salah satu sumber bahwa faktor-faktor yang  mempengaruhi  keberhasilan perdagangan bebas. Pertama, Industri sangat mempengaruhi dalam perdagangan bebas global. Kalangan industri telah berulang kali mengemukakan bahwa rendahnya daya saing industri disebabkan oleh permasalahan seperti keterbatasan suplai energi dan biaya yang tidak bersaing, sistem dan aturan ketenagakerjaan tidak terkait produktivitas, infrastruktur jalan dan pelabuhan, prosedur kepabeanan serta kinerja birokrasi yang menghambat arus barang, akses pendanaan terbatas dan bunga kredit yang tidak bersaing, hingga persaingan di pasar yang tidak fair. Kedua, merek ternama masih menjadi gantungan karena membuat merek sendiri tidak mudah, dibutuhkan banyak promosi yang memakan biaya besar.
Dari gambaran perdagangan bebas dan faktor-faktor penunjang keberhasilan perdagangan bebas diatas, akan dibahas bagaimana produk-produk dalam negeri berjuang untuk mampu bersaing dalam pusaran perdagangan bebas yang semakin marak saat ini baik daya saing produk dalam negeri yang lemah maupun produk-produk dalam negeri yang memiliki daya saing yang cukup tinggi didalam pasar global.
Indonesia banyak memiliki produk dan jasa unggulan yang berdaya saing internasional, namun sayangnya pasar global kurang mengenal merek-merek produk tersebut. Indonesia memiliki produk-produk unggulan seperti makanan, klinik kecantikan hingga fashion dengan kualitas baik, sayangnya sangat sedikit merek lokal yang berhasil di pasar internasional. Hal ini juga tidak lepas dari peran UKM (Usaha Kecil Mikro) sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia, kemampuan daya saing pelaku usaha kecil mikro (UKM) Indonesia dalam perdagangan ekspor dinilai masih sangat minim. Daya saing global yang rendah dari UKM dapat menjadi hambatan serius bagi UKM. Tidak hanya untuk menembus pasar global bahkan untuk memenangi persaingan dengan barang impor di pasar domestik juga akan berat. Berdasar data yang dirilis APEC, Indonesia menempati posisi terakhir untuk daya saing UKM, persoalan yang paling utama yang dihadapi UKM Indonesia adalah lemahnya penggunaan fasilitas internet, dan penguasaan teknologi. Sementara, berdasar data BPS, lanjut Tulus, hambatan utama yang dihadapi UKM di Indonesia adalah keterbatasan modal dan kesulitan pemasaran. Dari data tersebut yang diberikan BPS dapat disimpulkan bersama APEC bahwa kesulitan pemasaran yang dihadapi UKM diperkirakan karena lemahnya penggunaan fasilitas internet, dan penguasaan teknologi.
Selain alasan diatas, produk impor juga menjadi salah satu hambatan produk lokal/ dalam negeri untuk Go Global. Pasalnya impor produk konsumsi meningkat mengindikasikan produk lokal berkurang digunakan, termasuk mudahnya ditemukan produk impor hingga diseluruh pelosok daerah. Membanjirnya produk impor tersebut terlihat hadirnya berbagai macam produk mulai dari buah-buahan, makanan ringan, hingga mainan anak-anak.
Ditambah lagi pada januari 2010 yang lalu Indonesia telah menandatangani perjanjian ASEAN Forum Trade Agreement – China sebagai bagian dari program pasar bebas menjadi salah satu ancaman produk Indonesia adalah membanjirnya produk-produk China. Produk-produk China yang masuk ke Indonesia dengan harga yang sangat murah. Tentu saja konsumen akan memilih produk-produk yang murah meskipun dengan kualitas yang sedang. Namun dalam jangka panjang justru akan mengancam produk dalam negeri. Hal ini tentu menghambat berkembangnya produk dalam negeri untuk tetap eksis dalam pasaran global. Hal ini diperkuat olah hasil survei Kementrian Perindustrian menyimpulkan pemberlakuan ASEAN-China Free Agreement (ACFTA) telah menciutkan pasar produksi produk-produk dalam negeri. Produk elektronik asal China yang terlaris adalah jenis laptop dan telepon seluler (ponsel). Total nilai impornya Rp 52 triliun di tahun 2011. Data dari Kementrian Perindustrian menunjukkan, selama periode 2007-2011, impor produk elektronik China mengalami pertumbuhan hingga 51,4 persen. Laptop dan ponsel mendominasi produk impor tersebut.  Impor laptop memberikan kontribusi terbesar yakni sekitar 1 miliar dolar AS atau (Rp 9 triliun) atau naik 15,04 persen dari hasil tahun 2010. Produk-produk impor lainnya, seperti radio, telegraf, hardisk, dan berbagai komponen komputer juga ikut mengalami kenaikan, dan akibatnya impor produk China langsung membanjiri pasar lokal lantaran beluum adanya tameng pelindung non tarif dan juga industri dalam negeri mengalami penurunan penjualan. Tentu saja hal tersebut menurunkan eksistensi daya saing produk-produk dalam negeri dikancah pasaran global.
Namun bukan berarti adanya alasan-alasan yang menghambat produk dalam negeri tersebut menghambat keseluruhan produk Indonesia tidak dapat menembus pasar global. Beberapa produk Indonesia tidak sedikit yang menunjukkan kuatnya daya saing produk dalam negeri terhadap produk impor dalam pusaran perdagangan bebas global. Berikut adalah beberapa produk Indonesia yang mampu go Internasional    :
1. Casablanca
Banyak orang menduga kalau merek parfum yang banyak dipakai eksekutif muda ini, berasal dari perancis. Parfum casablanca, yang dalam iklan-iklannya banyak menampilkan model-model bule itu, ternyata diproduksi di Muara Kapuk, Jakarta.
2.Essenza
Diproduksi pertama kali tahun 1993, oleh PT.Intikeramik Alamsari Industri, Essenza telah berhasil menembus pasar Singapura, AS, juga negara-negara Asia, Eropa, Afrika, dan Timur Tengah. Bahkan telah diterima di Italia yang notabene merupakan salah satu negara penghasil keramik terbaik dan terbesar di dunia.
3.Paseo
Paseo merupakan brand tisu berkualitas premium yang diproduksi PT.Pindo Deli sejak tahun 1998. Paseo kini kini telah diekspor ke negara-negara Asia Tenggara (Singapura dan Filipina), Australia, dan Belgia.
4.Silver Queen
Silver Queen, Chunky Bar, dan Ceres, produsennya adalah PT. Petra Foods, menjadi salah satu pemain utama di pasar global. Petra Foods, perusahaan milik keluarga Chuang ini, menjadi pesaing berat M&M’S, produsen coklat nomor wahid asal Amerika. Produk-produk dari PT.Petra Foods tersebut juga telah merambah ke setidaknya 17 negara di antaranya Thailand, Jepang, Filipina, Hong Kong, Australia, dan China.
5.Sophie Martin
 Sophie Martin didirikan oleh pasangan suami-istri berkebangsaan Perancis, Bruno Hasson dan Sophie Martin. Pada tahun 1997 mereka datang ke Indonesia karena Bruno mendapat tugas di sebuah perusahaan perancis yang ada di Indonesia. Ternyata tas-tas yang dipromosikan dari mulut ke mulut tersebut, mendapat respon positif. Pintu untuk melebarkan sayap pun terbentang lebar. Trik Sophie Martin dengan menambahkan kata "paris" di belakang brand Sophie Martin tersebut ternyata cukup berhasil, dan mengecoh banyak konsumen.
6.L E A
Merek Jeans ini ternyata produk asli Indonesia. Meskipun toko dan iklannya bau-bau Amerika, namun produk ini murni made in Indonesia.
7.POLYTRON
Melihat atau mendengar merek Polytron, boleh jadi yang terbayangkan adalah produk elektronik dari luar negeri. Padahal, sesungguhnya Polytron lahir di Tanah Air, di Kudus, Jawa Tengah (Jateng), yang kemudian menembus pasar Eropa, ASEAN, Timur Tengah, dan Australia. Bahkan, Polytron bisa dikatakan kini tinggal satu-satunya produk nasional-tanpa prinsipal-yang masih bertahan, setelah melalui perjuangan panjang dan gelombang pasang surutnya industri elektronik nasional.
8.Edward Forrer
Edward Forrer adalah perusahaan alas kaki dan tas asal Indonesia. Perusahaan ini dinamakan sesuai nama pendirinya, Edward Forrer, atau lebih sering disapa Edo. Dimulai dengan memproduksi sepatu pada tahun 1989 di Bandung, kini Edward Forrer memiliki lebih dari 50 gerai di Indonesia, Australia, Malaysia, dan Hawaii. Edward Forrer memiliki kantor pusat di jalan Veteran No.44 Bandung, Jawa Barat.
9. EIGER
Merek-merek tas yang sudah populer seperti: Eiger, Export, Neosack, Bodypack, Nordwand, Morphosa, World Series, Extrem, Vertic, Domus Danica, Broklyn dll, adalah Produk yang di hasilkan oleh B&B Incorporations (B&B Inc.) yang merajai pasar tas yang ada di Indonesia, pemiliknya Rony Lukito adalah asli orang Indonesia. Produk Rony juga tersedia di berbagai outlet modern seperti Toserba Ramayana, Matahari Departemen Store, Robinson, dan berbagai hypermart seperti Carrefour, hingga jaringan toko-toko buku seperti Gramedia, dan Gunung Agung belum lagi toko-toko dan grosir tradisional lainnya.
10.Broco
Brand ini merupakan milik PT.Broco Mutiara Electrical Industry, yang berdiri pada tahun 1985, dan memproduksi alat-alat dan instrumen kelistrikan. Kini produk-produk Broco telah banyak digunakan, baik oleh bangunan komersial, tempat tinggal, maupun hotel bintang 5.
11. The Executive
Sebelumnya bernama "Executive 99" yang lahir tahun 1974. Lalu pada tahun 1985 berganti pemilik, dan tahun 2000 berganti nama menjadi The Executive. Saat ini, brand The Executive bisa dijumpai di Malaysia, Singapura, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya
12.Buccheri
Produk-produk dari Buccheri adalah Sepatu dan Tas Kulit. Diproduksi mulai tahun 1980 melalui PT. Vigano Cipta Perdana. Banyak orang tak menyangka, bahwa merek besutan Ediansyah ini merupakan produk asli buatan Indonesia. Mayoritas penikmat sepatu dan tas kulit menyangka bahwa Buccheri adalah buatan Italia.
13.Excelso
Excelso ini adalah salah satu anak perusahaan dari Kapal Api Group, yang cukup dikenal dengan brand-nya Kopi Kapal Api. "Beroperasi sejak 1991 di Plaza Indonesia, cafe Excelso telah menjelma menjadi salah satu ikon gaya hidup di kota-kota besar di Indonesia" (dikutip dari majalah Swa edisi 29 April - 11 Mei 2010).
14. Terry Palmer
Banyak yang mengira Terry Palmer merupakan brand dari luar, padahal handuk Terry Palmer tersebut diproduksi di Tangerang. Terry Palmer merupakan brand handuk yang dimiliki oleh PT.Indah Jaya. Handuk yang diklaim sebagai handuk paling higienis ini telah diekspor sampai ke Jepang, Australia, Amerika hingga negara-negara Eropa.
15.California Fried Chicken
Toko makanan cepat saji terkemuka di Indonesia, California Fried Chicken (CFC) tidak dari California, bahkan tidak didirikan di USA tp didirikan di Jakarta pada tahun 1983, dan kini memiliki 183 outlet nasional. Didirikan di Jakarta pada tahun 1983, dan kini memiliki 183 outlet nasional.
*     Dan masih banyak lagi produk-produk Indonesia yang menembus pasaran global.
Dari data-data produk tersebut dapat dilihat bahwa produk-produk ternama seperti yang dijabarkan diatas yang tidak disangka merupakan produk-produk asli Indonesia, dapat menunjukkan bahwa daya saing produk-produk dalam negeri cukup kuat untuk menembus pasar global. Ini berarti dalam perdagangan bebas global tidak hanya produk-produk impor yang mampu merajai pasar global, akan tetapi produk lokal pun juga dapat bersaing mengalahkan produk impor.
Dari data tersebut dapat dilihat produk-produk tersebut terbentuk atau dibuat pada tahun-tahun yang sudah lama, tentu lama juga untuk dapat mempromosikannya hingga dapat tenar namanya dan menembus pasar global seperti saat ini. Ini juga menjadi acuan bagi pengusaha-pengusaha di era perdagangan bebas global ini untuk tetap optimis bersaing dalam pusaran global, meningkatkan daya saing yang kuat untuk mampu mengalahkan produk impor yang saat ini membanjiri tanah air, meningkatkan kualitas produk maupun kuantitas, serta dalam mempromosikan produk menggunakan media yang sekiranya masyarakat luas tahu tentang produk dan menarik sehingga masyarakat tertarik membeli produk.
Daya saing yang kuat tidak hanya dapat diciptakan oleh produk dan pengusaha yang terlibat, akan tetapi juga dapat diciptakan oleh masyarakat dalam negeri sendiri yakni dengan membeli produk-produk asli Indonesia dibanding dengan produk-produk impor. Dengan terus-menerus mendorong masyarakat untuk tidak membeli barang-barang impor dan lebih diarahkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri, dampaknya pasti akan sangat luar biasa. Barang-barang asing bisa saja menjadi tak laku di pasaran. Dengan demikian, hal ini tentu akan bisa semakin meningkatkan kembali dunia usaha dan industri nasional dalam pasaran global dan ini berarti daya saing produk Indonesia lebih kuat daripada produk-produk impor seperti halnya produk-produk dari China.




BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Perdagangan bebas dapat memberikan keuntungan ataupun kerugian bagi negara yang menjalankannya. Keuntungan bagi negara dan para pelaku perdagangan bebas pada umumnya didapat karena produk yang dihasilkan mampu menembus pasaran global, sebagian adalah produk-produk yang dapat merajai pasar global. Keuntungan yang dicapai tersebut tidak lain karena kuatnya daya saing produk-produk yang diciptakan sehingga dapat menembus pasar global. Sebaliknya, dalam perdagangan bebas kerugian akan dialami oleh suatu negara yang masuk dalam perdagangan bebas apabila produk dalam negara tersebut tidak mampu bersaing didalam pasar global, dengan kata lain produk dalam negeri kalah dengan produk impor yang memiliki nama besar atau yang lebih terkenal.
Faktor-faktor yang  mempengaruhi  keberhasilan perdagangan bebas. Pertama, Industri sangat mempengaruhi dalam perdagangan bebas global. Kedua, merek ternama masih menjadi gantungan karena membuat merek sendiri tidak mudah, dibutuhkan banyak promosi yang memakan biaya besar. Dalam upaya menembus pasar global hambatan utama yang dihadapi UKM di Indonesia sebagai salah satu penopang perekonomian Indonesia adalah keterbatasan modal dan kesulitan pemasaran. Selain itu, produk impor juga menjadi salah satu hambatan produk lokal/ dalam negeri untuk Go Global. Dengan terus-menerus mendorong masyarakat untuk tidak membeli barang-barang impor dan lebih diarahkan untuk menggunakan produk-produk dalam negeri, dampaknya pasti akan sangat luar biasa. Barang-barang asing bisa saja menjadi tak laku di pasaran. Dengan demikian, hal ini tentu akan bisa semakin meningkatkan kembali dunia usaha dan industri nasional dalam pasaran global dan ini berarti daya saing produk Indonesia lebih kuat daripada produk-produk impor seperti halnya produk-produk dari China.



DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi
http://esti03mjk.blogspot.com/2012/05/impor-produk-china-kalahkan-produk.html





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar